Sunday, January 26, 2014

Langit Jingga

Langit Jingga
SafronLubis

Langit biru yang sentiasa biru
Kagum masih namun terasa
Langit jingga yang menyaksi
Derap langkah yang memijak bumi itu
Diri berat menampung seribu lukisan
Dalam dunia jingga musim luruh

Udara tidak menyimpan haba lagi menyorong beban
Dunia bergerak perlahan
Suara suara mula redup dan sayut

Setiap petikan gitar menjadi nadi
nadi menari nari dengan lukisan jiwa
Setiap petikan gitar menjadi suara
suara menyanyi nyanyi dengan irama hati

Dunia jingga biasan langit petang
Jalan tar, dinding konkrit pendek
Sawah padi yang sempit
Deretan rumah orang muda
Berselang-seli dengan roda speda berputar
Berkali kali lalui jalan yang sama

Setiap nyanyian suara menjadi lukisan
lukisan bergerak gerak tanpa sutradara
Setiap korus lagi menjadi lukisan
lukisan berulang ulang tanpa layar

Pahit menggamit segenap ceruk urat
Mencekik dan menjerut perut dan dada
Menghimpitkan rasa kecewa dan kekalahan
Namun mataku masih bulat bersinar
Dan tanganku masih kemas menggenggam bara

Setiap lukisan menjadi seribu pedang
Menusuk kejam setiap inci tubuh
Setiap irama menjadi sabungan petir
Petir memekakkan hati dan menggegar jiwa
Bergegar gegar bahu
Nafas menjadi padu
Mata bulat dengan tekad
Tangan kemas menggenggam
Lukisan indah menjadi sembilu jiwa
Kaki takkan kenal penat
Meski ke mana jalan ini pergi
Tekad ini tidak mahu rehat

Langit Jingga menghiasi jiwa
Indah dalam matanya tercermin di wajahnya
Namun senyumnya tawar
kerna jiwanya tidak setenang petang yang jingga  itu


- jangan putus asa sampai mati -
safronlubis - kkerian